24 Sep, 2026
5 Menit Baca

“KISAH AMAL IBADAH YANG DAPAT MENOLONG PARA PELAKUNYA, SEKARANG APA AMAL KALIAN?”

 “KISAH AMAL IBADAH YANG DAPAT MENOLONG PARA PELAKUNYA, SEKARANG APA AMAL KALIAN?”

Hadits:

            Syaikhani (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga lelaki yang hidup di zaman sebelum kalian, saat dalam perjalanan kemudian hujan turun mengguyur mereka. Mereka pun berlindung ke gua. Tiba-tiba, gua itu menutup mereka. (Sebuah batu dari gunung jatuh di mulut gua dan menutup mereka).

            Mereka saling berkata, “Demi Allah, Dia tidak akan menyelamatkan kalian kecuali dengan kejujuran. Hendaklah setiap orang dari kalian merenungkan apakah dia telah jujur dalam beriman kepada-Nya.”

            Salah satu dari mereka berkata, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku memiliki seorang pekerja yang telah bekerja dengan upah delapan sha’ beras, lalu dia pergi tanpa membawa upah itu. Aku pun mengambil beras itu dan memanennya. Ketika beras itu membuahkan hasil, aku membeli sapi dari hasil itu. Kemudian pekerja itu kembali mendatangiku dan meminta upahnya. Aku berkata kepadanya, “Pergilah ke sapi dan bawalah (semua unta, sapi, kambing, dan budak yang kau lihat berasal dari upahmu).

            Dia berkata kepadaku, “Aku memiliki jatah delapan sha’ beras padamu. Janganlah menghinaku”. Aku berkata kepadanya, “Aku tidak menghinamu.” Pergilah ke sapi itu. Sesungguhnya sapi itu berasal dari delapan sha’ beras upahmu.” Lalu dia mengambil semua sapi dan tidak menyisakan sedikit pun.

            Dia berdoa, “Jika Engkau tahu bahwa aku melakukannya karena takut kepada-Mu, maka tolonglah kami.”

            Batu itu terpecah. Allah memberikan mereka sebuah pertolongan. Mereka bisa melihat langit dari celah batu itu. Batu itu terbuka sedikit dan mereka masih belum bisa keluar.

            Yang lain berkata, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku memiliki dua orang tua yang sudah sangat tua (dan aku memiliki anak-anak yang masih kecil). Aku mendatangi keduanya di malam hari dengan susu kambing yang ku miliki. Aku terlambat mendatangi mereka pada suatu malam. (Suatu hari aku pergi jauh untuk mencari sesuatu dan aku tidak mendatangi mereka hingga mereka sudah terlelap tidur).

            Aku datang dan keduanya sudah tertidur, sedangkan keluarga dan anak-anakku meliuk-liuk karena sangat kelaparan, tapi aku tidak memberi minum (susu) kepada mereka sampai aku memberikan minum untuk kedua orang tuaku. Aku tidak mau membangunkannya, tapi aku juga tidak mau meninggalkan keduanya sehingga mereka tidak bisa minum. Aku terus menunggu sampai fajar terbit.

            Dia pun berdoa, “Jika Engkau tahu bahwa aku melakukannya karena-Mu, maka tolonglah kami.” 

            Terpecahlah batu itu hingga mereka bisa melihat ke langit.

            Yang lain lagi berkata, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku memiliki sepupu, putri pamanku. Dia adalah orang yang sangat aku cintai. Aku mencoba menggodanya, tetapi dia menolak, sampai aku mendatanginya dengan seratus dinar.

            Dia menolakku sampai setahun baru mendatangiku. Aku memintanya (melayaniku) sampai aku berhasil dan aku mendatanginya dengan seratus dinar untuknya. Dia pun memposisikan dirinya. Ketika aku sudah duduk di antara kedua kakinya, ketika aku sudah berhasil menguasai dirinya, dia berkata, “Bertakwalah kepada Allah. Janganlah kamu membuka segel, kecuali dengan haknya”. Aku pun berdiri dan meninggalkan seratus dinar itu untuknya.

            Dia juga berdoa, “Jika Engkau tahu bahwa itu aku melakukannya karena-Mu, maka tolonglah kami.”

            Allah pun memberikan pertolongan kepada mereka dan mereka keluar (dari gua).

 

Berikut kisah selengkapnya,

Dikisahkan ada tiga orang yang hidup dari kalangan Bani Israel, ketika mereka sedang melakukan perjalanan, mereka terjebak di malam hari di sebuah tanah yang lapang dan kosong. Ketika itu hujan turun dengan deras, dan tidak ada tempat untuk bernaung pada saat itu kecuali sebuah goa di dalam gunung. Akhirnya mereka memutuskan untuk berteduh dengan masuk ke dalam goa tersebut.

Ketika sedang berteduh pada malam itu, tiba-tiba ada sebuah batu besar yang jatuh dari puncak gunung dan tepat menutupi pintu keluar dari goa tersebut. Melihat hal itu, tiga pemuda ini merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang luar biasa. Mereka langsung berputus asa karena merasa tidak akan bisa mendorong atau mengeluarkan batu besar itu dari dalam goa.

Di dalam goa itu mereka saling pandang memandang, dan salah satu di antara mereka berkata, “Batu besar ini telah menutup pintu keluar goa, lalu apa yang bisa kita lakukan? Tidak ada orang yang tahu keberadaan kita di sini kecuali diri kita sendiri, dan Tuhan kita yang Maha Tahu. Oleh karena itu mulai saat ini ingatlah Dia selalu dan jangan sekali-kali melupakannya. Karena tidak ada yang bisa menolong kita kecuali Dia. Dan juga semoga amal-amal kebaikan yang selama ini telah kita kerjakan dapat membantu kita di saat seperti ini.”

Masing-masing dari mereka merenungkan dan mengingat tentang amal kebaikan yang pernah mereka kerjakan sebelum mereka ditimpa musibah seperti ini. Maka berikut kisah amal kebaikan dari tiga lelaki ini.

Lelaki pertama, dia adalah orang yang memiliki sebidang tanah. Lalu dia memperkerjakan orang-orang atau buruh untuk mengurusi tanahnya. Dan mereka (pemilik tanah dan buruh) bersepakat dengan memberikan upah setengah dirham untuk para pekerja itu. 

Diriwayatkan kemudian bahwa ada seseorang yang datang menawarkan diri untuk bekerja di tempatnya, dan dia mengizinkan. Namun lelaki ini bekerja dalam waktu yang kurang dan tidak sama seperti para pekerja yang lainnya. Tetapi si pemilik tanah ini tetap memberikan upah yang sama seperti para pekerja yang lainnya. 

Mengetahui hal ini, salah satu pekerja dari mereka bertanya dan merasa tidak terima, “Mengapa kau memberikan upah yang sama sementara dia bekerja hanya separuh dari waktu kami bekerja?” Si pemilik tanah ini menjawab, “Aku sama sekali tidak mengurangi hak kalian dalam memberikan upah kepada kalian, adapun kepada lelaki itu, ini pula adalah hakku, karena ini adalah hartaku.”

Kemudian pekerja yang tidak terima ini segera pergi meninggalkan tuannya tanpa mengambil hak atau upahnya sedikit pun. Akhirnya upah si buruh itu digunakan oleh tuannya (pemilik tanah) untuk pertanian, dan tumbuh subur. Hasil dari pertanian itu digunakannya untuk membeli seekor kambing yang kemudian beranak pinak. Harta dari modal “upah buruh” itu menjadi bertambah banyak dan berlimpah ruah. Sehingga si pemilik tanah ini dapat membeli binatang ternak lainnya seperti unta dan sapi.

Hari terus berlalu, tibalah waktu ketika mantan buruh ini membutuhkan uang, dan dia masih ingat bahwa dulu dia belum mengambil upah dari tuannya itu. Kemudian dia mendatangi tuannya dan menyampaikan maksud dari kedatangannya. 

Sang tuan berkata, “Kau lihat binatang-binatang ternak itu, semua itu adalah dari upahmu yang belum kau ambil.” 

Mantan buruh ini merasa tidak percaya, namun tuannya terus meyakinkannya. Tuannya berkata, “Ini semua adalah hasil dari upahmu dulu, dan ini semua adalah hakmu, maka ambillah!”  

Dan dengan penuh bahagia mantan buruh ini mengambil semua yang dikatakan sebagai haknya itu. 

Usai mengingat kebaikannya itu, lelaki pertama ini berdoa kepada Allah, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat kebaikan semata-mata karena-Mu, dan karena aku juga tidak mau mengambil hak orang lain. Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui tentang itu, maka tolonglah kami sekarang.”

Allah yang Maha Mendengar, segera mengabulkan doanya dan memberikan pertolongan-Nya. Batu yang besar itu tiba-tiba bergeser sedikit sehingga terbukalah dari pintu goa itu dan mereka bisa melihat langit meskipun belum terlihat dengan jelas.  

            Sedangkan lelaki kedua adalah dia memiliki kedua orang tua yang berusia lanjut dan sudah lemah tak berdaya. Di rumahnya tidak ada pembantu ataupun selainnya untuk mereka berdua. Lelaki ini adalah anak yang sangat berbakti dan sangat menyayangi kedua orang tuanya. 

            Kebiasaannya adalah ia menggembala kambing di siang hari, kemudian ia perah susu kambing itu dan dibawakannya kepada orang tuanya di malam hari. 

            Namun pada suatu hari, ketika sedang menggembala kambingnya, ia mencari-cari dan tidak menemukan tempat gembalaan yang baik untuk kambingnya itu. Dia terus mencari sampai ke tempat yang lebih jauh dari tempat biasanya ia menggembala. Akhirnya ia kembali ketika hari sudah larut malam.

            Usai dia memerah susu kambingnya, ia berniat untuk memberikan susu itu kepada orang tuanya. Namun dia melihat bahwa orang tuanya sudah tertidur pulas. Dan dia juga melihat bahwa anak-anak dan isterinya sudah kelaparan sampai menangis. Lelaki itu tidak ingin memberikan susu itu kepada siapapun kecuali orang tuanya telah meminum terlebih dahulu.

            Namun dia mendapati orang tuanya sedang tertidur lelap. Lalu apa yang dia lakukan? Apakah dia membangunkan kedua orang tuanya? Tidak. Apakah dia memberikan susu itu kepada anak dan isterinya terlebih dahulu, baru kemudian diberikan sisanya untuk orang tuanya? Tidak juga!.

            Lelaki tersebut dengan sabar menunggu orang tuanya sedang tidur itu hingga mereka bangun. Tapi ternyata mereka tidak bangun hingga terbit fajar. Akhirnya baru ia berikan susu itu kepada orang tuanya, lalu sisanya ia berikan untuk anak-anak dan isterinya. 

            Mengingat itu, dia berdoa, “Ya Tuhanku, aku telah berbakti dan berbuat baik kepada orang tuaku dengan sebenar-benarnya karena-Mu. Karena itu yang Engkau perintahkan kepada kami sebagai hamba. Maka sekarang aku meminta kepada-Mu agar segera menolong kami di saat seperti ini.”

Maka batu itu dengan izin Allah terbelah sehingga mereka bisa melihat langit dengan lebih jelas dari sebelumnya.

Kemudian kisah tentang lelaki yang ketiga. Lelaki ketiga ini, dia memiliki saudara sepupu perempuan yang sangat cantik. Dan ia sangat mencintainya layaknya mencintai seorang kekasih. Ia terus mendekatinya tetapi saudarinya itu menolaknya. 

Sampai suatu ketika, saudari yang cantik itu sedang membutuhkan uang dalam keadaan yang darurat. Akhirnya ia datang kepada lelaki ini yang dikenal punya banyak harta. Si lelaki ini mau memberikannya dengan syarat agar ia mau melayaninya. Saudarinya dengan sangat terpaksa mau menyetujui permintaan saudaranya itu.

Ketika mulai lelaki ini mendekatinya, layaknya seorang suami halal mendekati isterinya, ia sontak menangis. Ketika ditanya mengapa menangis? Ia menjawab, “Aku melakukan ini hanya untuk keperluanku saja, bertakwalah kepada Allah, Dia selalu melihat apa-apa yang tidak bisa dilihat oleh selain-Nya. Takutlah kepada Allah, jangan pernah kau buka segel sesuatu yang belum kau beli dan yang bukan menjadi milik dan hakmu, sesungguhnya kau telah berbuat apa yang dilarang oleh Allah SWT.”

Mendengar itu seketika tubuhnya menggigil dirundung rasa takut yang luar biasa. Akhirnya ia meninggalkan saudarinya itu tanpa mengambil uang yang telah diberikan kepada saudarinya itu. Ketika mengingat itu, lelaki ketiga ini berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku dengan segera meninggalkannya karena takut kepada-Mu, dan aku takut melanggar perintah-Mu. Kalau Kau benar-benar tahu tentang itu, maka tolonglah kami saat ini juga.”

Maka seketika batu yang besar itu terbuka lebar hingga akhirnya mereka dapat keluar dari goa tersebut. Alhamdulillah.

 

Ibrah:

1.      Sebelumnya, di awal ibrah ini saya tekankan tentang niat dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT. Niatkan ibadah kita semata-mata hanya untuk-Nya, tidak ada sesuatu dan sekecil apapun untuk yang lainnya. Adapun dalam kisah di atas, itu adalah bentuk balasan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang telah ikhlas beribadah kepada-Nya. Dari kisah ini dapat juga kita simpulkan bahwa kita dapat bertawasul (berdoa dan meminta pertolongan) melalui amal-amal ibadah yang telah kita kerjakan.

 

2.      Dari amalan ketiga lelaki ini, masing-masing mempunyai keutamaan dan hikmahnya tersendiri. Lelaki pertama, dia yang tidak mau mengambil hak orang lain meskipun itu adalah buruhnya sendiri dan dia sebagai bosnya. Bahkan dari hasil upah buruhnya itu dia investasikan kemudian ia berikan kembali kepada orang yang berhak menerimanya, yaitu mantan buruhnya. Kemudian lelaki kedua, ia yang sangat menyayangi dan memuliakan kedua orang tuanya. Sampai ada yang mengatakan, “Jadikanlah orang tuamu seperti raja, maka rezeki dan kedudukanmu juga akan seperti raja.” Adapun lelaki yang ketiga, ia yang takut dan rela meninggalkan wanita (sepupunya) yang ia cintai karena takut kepada Allah SWT. Dan ia pergi tanpa membawa harta yang dengan ikhlas ia berikan kepada saudarinya itu. Meskipun semula menggunakan syarat, namun akhirnya ia cabut syaratnya itu dan secara suka rela ia menolong memberikan hartanya kepada saudarinya. Dengan tiga kebaikannya itu, maka Allah menolongnya sehingga mereka dapat keluar dari goa. Wallahu a’lam.

Diskusi 0

Belum ada diskusi di sini. Jadilah yang pertama!

Beri Komentar

Bagikan pemikiran atau pertanyaan Anda di bawah ini.