07 Jul, 2026
5 Menit Baca

Sejarah Turunnya Al-Quran

Sejarah Turunnya Al-Quran

Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai petunjuk bagi umat manusia sekaligus memiliki banyak keistimewaan di dalamnya. Selain sebagai kitab samawi yang terakhir turun, keistimewaan lainnya ialah Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab yang turun dengan dua fase.   

Dalam sejarahnya, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas dan disepakati mayoritas ulama, Al-Qur’an turun melalui dua fase. Pertama, disebut fase “inzali” yaitu turunnya Al-Qur’an secara global dari Lauhul Mahfudz menuju Baitul Izzah di langit dunia sebagai bentuk pengagungan terhadap Al-Qur’an.  Fase kedua disebut “tanzili” yaitu turunnya Al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw selama 23 tahun sesuai dengan peristiwa yang terjadi (mempertimbangkan sebab turunnya). 

 

Ayat Al-Qur’an Fase Inzali 

Terkait fase turun Al-Qur’an secara inzali dalam Al-Qur’an disebutkan di antaranya:   

1.      Surat Al-Baqarah ayat 185 

Pada Surat Al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa Al-Qur’an turun pada bulan suci Ramadhan sebagai petunjuk bagi umat manusia.  

 شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ    

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan batil)."    

 

Syekh Nawawi al-Bantani dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan fase pertama dalam turunnya Al-Qur’an. Pada saat itu Jibril turun membawa Al-Qur’an secara keseluruhan (global) pada malam lailatul qadar, pada tanggal dua puluh empat Ramadhan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia.  Jibril menyerahkannya pada malaikat safarah (pencatat), kemudian ia menuliskannya pada lembaran-lembaran dan lembaran-lembaran tersebut diletakkan pada suatu tempat di langit itu yang dinamakan dengan Baitul Izzah. 

Selanjutnya, Jibril membawa al-Qur’an turun kepada Rasulullah Saw secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, selama masa kenabian sesuai dengan kebutuhan (sebab turun) per hari, satu ayat, dua ayat, tiga ayat atau satu surat utuh. 

 

2.      Surat Ad-Dukhan ayat 2-3

   وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ ٢ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ٣  

Artinya: “Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (2) Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan (3).”    

 

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Al-Qur’an turun pada malam yang diberkahi. Ulama berbeda pendapat terkait makna malam yang diberkahi pada ayat di atas. Namun, mayoritas ulama mengatakan maksudnya ialah malam lailatul qadar. Pada malam tersebut, selain merupakan malam diturunkannya Al-Qur’an juga merupakan malam diputuskan segala takdir umat manusia untuk setahun kedepan. 

 

3.      Surat Al-Qadr ayat 1  

 إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ    

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.”   

 

 Ayat 1 surat Al-Qadr ini memperjelas dari dua ayat sebelumnya, bahwa Al-Qur’an turun secara global pada malam Lailatulqadar, malam yang diberkahi dari Lauhul mahfudz menuju Baitul Izzah di langit dunia. Sebelum kemudian diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun kepada Nabi Muhammad saw mempertimbangkan asbabun nuzulnya, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas dan mayoritas ulama. 


Ayat Al-Qur’an Fase Tanzili 

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan fase tanzili (bertahap) dalam di antaranya ialah:   

1.      Surat Al-Syuara ayat 192-195

   وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ ١٩٣ عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ ١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيّٖ مُّبِينٖ ١٩٥   

 

Artinya: “Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam (192) Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril). (193) (Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan. (194) (Diturunkan) dengan bahasa Arab yang jelas.(195)”  

 

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah, Tuhan semesta alam kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Ruhulamin sebagaimana dimaksud pada ayat di atas ialah malaikat Jibril. Disebut Ruh, sebab dengannya kehidupan agama dapat berlangsung sedangkan al-amin karena ia dipercaya untuk menyampaikannya kepada para Nabi sebagai pembawa wahyu.   

Ini menunjukkan bahwa ayat ini menerangkan fase turun Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril selama 23 tahun.   Pada ayat di atas pula dijelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dan ditetapkan di dalam hati Nabi Muhammad saw, dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas untuk memberi peringatan kepada umat manusia.

 

2.      Surat An-Nahl ayat 102

 

   قُلۡ نَزَّلَهُۥ رُوحُ ٱلۡقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهُدٗى وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ   

 

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ruhulkudus (Jibril) menurunkannya (Al-Qur’an) dari Tuhanmu dengan hak untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah)”.   

 

Ayat 102 surat An-Nahl ini senada dengan ayat sebelumnya, bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril untuk meneguhkan hati orang-orang beriman dan sebagai petunjuk serta kabar gembira bagi umat Islam. Akan tetapi, pada ayat ini malaikat Jibril disebut Ruhulkudus (ruh yang suci) yang memiliki arti ruh yang disucikan dari kotoran-kotoran manusia. 

Kesimpulannya, Al-Qur’an memiliki dua fase turun yaitu secara global dari Lauhul Mahfudz menuju Baitul Izzah di langit dunia. Proses tersebut disebut dengan fase Inzali. Sebelum kemudian Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril selama 23 tahun sesuai sebab turunnya. 

 

Secara garis besar, Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap selama 23 tahun, dimulai dari Gua Hira pada malam Lailatul Qadar, dan merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam. Berikut merupakan rincian proses turunnya Al-Quran:

Proses Turunnya Al-Quran

  1. Wahyu Pertama: Al-Quran pertama kali diturunkan pada malam 17 Ramadhan tahun 610 Masehi, ketika Nabi Muhammad SAW berada di Gua Hira. Wahyu pertama yang diterima adalah surat Al-Alaq ayat 1-5, yang menandai awal kenabian nabi Muhammad.
  2. Tahapan Penurunan: Al-Quran diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Proses ini dilakukan melalui perantara Malaikat Jibril, sesuai dengan kebutuhan umat Islam pada saat itu, baik sebagai hukum, respon terhadap peristiwa, maupun hikayat dari umat-umat sebelumnya. 
  3. Nuzulul Quran: Peristiwa turunnya Al-Quran dikenal dengan istilah Nuzulul Quran, yang diperingati setiap tahun pada malam 17 Ramadhan. Ini merupakan momen penting yang menandai turunnya wahyu ilahi yang akan membimbing umat manusia. 
  4. Signifikansi: Al-Quran bukan hanya sekadar kitab suci, tetapi juga merupakan petunjuk hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan. Al-Quran berisi ajaran yang memberikan pedoman tentang segala aspek kehidupan. 
  5. Kompilasi Al-Quran: Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Al-Quran dikumpulkan dan dikompilasi oleh para sahabat untuk menjaga kemurniannya. Proses ini menunjukkan betapa besarnya upaya dalam menjaga kitab suci ini agar tetap utuh dan terjaga. 

 

Kesimpulan

Sejarah turunnya Al-Quran adalah perjalanan panjang yang monumental, yang tidak hanya membentuk landasan peradaban Islam tetapi juga memberikan petunjuk dan pedoman bagi umat manusia. Memahami sejarah ini penting untuk mengaplikasikan ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

Diskusi 0

Belum ada diskusi di sini. Jadilah yang pertama!

Beri Komentar

Bagikan pemikiran atau pertanyaan Anda di bawah ini.